FORUM MANDAILING

ro ho, ro au , rap ro ma hita, rap ro rap ra

ambukon mada gut-gut i

HORAS TONDI MATOGU PIR TONDI MADINGIN

kepada seluruh pengunjung forum mandaling yang terhormat, forum ini belum memiliki moderator untuk mengendalikan seluruh thread dengan beberapa kategori, di mohonkan tu koum-koum yang luang waktu untuk dapat bergabung menjadi moderator forum ini, hanya membutuhkan loyalitas dan pengetahuan tentang mandailing agar forum ini bisa berkembang ke depannya, terimakasih

    Tradisi Mandailing

    Share

    Admin
    Admin

    Jumlah posting : 22
    Reputasi-mu : 0
    Join date : 22.02.11

    Tradisi Mandailing

    Post  Admin on Wed Mar 02, 2011 8:56 pm


    Sudah pasti, masyarakat yang terbuka, memiliki sifat-sifat egaliter, apalagi keterbukaan itu berkaitan dengan masuknya agama Islam yang menanamkan semangat kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Semangat Islam inilah sebenarnya yang diadopsi para penganjur Revolusi Prancis (1789-1799) yang mendengungkan semboyan yang tercatat dalam sejarah peradaban sebagai semboyan spektakuler, ialah: Liberté, Egalité dan Fraternité. Semboyan itu telah mengubah tamaddun bangsa-bangsa khususnya yang berkaitan dengan perjuangan hak asasi manusia.

    Pengaruh Islam di Eropa itu dapat ditelusuri antara lain dengan memperhatikan proses penyerapan ajaran Islam melalui terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa, ialah Latin (1543), Jerman oleh Schweigger di Nurenberg (1616), Prancis oleh Du Ryer di Paris (1647), Latin oleh Maracci (1689), Inggris oleh George Sales (1734), Jerman oleh Boysen (1773), Rusia di St. Petersburg (1776) dan Prancis (1783). Terjemahan pertama dalam bahasa Prancis terbit 132 tahun sebelum Revolusi Prancis dan terjemahan kedua terbit enam tahun sebelum pemberontakan di penjara Bastaille itu.

    Alexander Philippus Godon (1816-1899), Asisten Residen Mandailing Angkola (1848-1857) yang berdarah Prancis itu, adalah penganut semboyan Revolusi Prancis itu. Godon telah berhasil meraih kerja sama Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar dalam melakukan perubahan sosial yang luar biasa di Mandailing Angkola.. Mereka merancang dan melakukan pembangunan ekonomi antara lain membuka jalan Panyabungan ke pelabuhan Natal. Ia juga melakukan gerakan anti perbudakan, 1856, sezaman dengan gerakan Harriet Beecher Stowe yang terkenal dengan karyanya Uncle Tom’s Cabin. Bahkan Godon juga mendesain pakaian kalangan raja-raja agar penampilan mereka lebih kharismatik, termasuk pakaian kaum perempuan dan masyarakat umum. Jumlah mas kawin pun ditetapkan oleh Godon agar tidak memberatkan pihak laki-laki.

    Sistem masyarakat Mandailing Dalihan Na Tolu yang egaliter, terdiri dari komponen masyarakat yang terdiri dari kahanggi (kerabat semarga), mora (kerabat pemberi isteri) dan anak boru (kerabat pengambil isteri). Semua orang Mandailing memiliki posisi itu sesuai dengan peranannya dalam suatu peristiwa adat yang berbeda. Hubungan kekerabatan yang kuat itu sesuai dengan hubungan kekerabatan yang diajarkan oleh Islam baik melalui pohon keluarga yang dikenal dengan tarombo. Demikian juga hubungan perkawinan telah dipengaruhi oleh ajaran Islam antara lain seperti disebutkan di dalam Surat An-Nisaa’ ayat 23.

    Holong merupakan ajaran kasih sayang yang diajarkan oleh Al-Qur’an, seperti yang disebutkan dalam Surat Luqman tentang nasihat Luqmanul Hakim kepada puteranya. Banyak kisah teladan yang menceritakan betapa budi pekerti dan bakti anak kepada ibu sangat besar peranannya dalam perjalanan hidup seorang anak dll.

    Agama Islam menyempurnakan beberapa tradisi Mandailing, misalnya tentang kawin semarga dengan merujuk ayat-ayat 23 Surat An-Nisaa’ itu. Sehingga dasar-dasar hubungan kekerabatan menjadi lebih luas, mendalam dan bermakna. Hal ini merupakan terobosan ajaran Islam yang lembut terhadap perubahan tradisi kawin anak namboru – boru tulang. Ini merupakan sumbangan Islam yang sangat menonjol dalam pembinaan keluarga orang Mandailing. Dalam hal ini jelas Islam mendikte adat (Harahap, 1987a:222).

    Satu hal yang kuat merekat hubungan kekerabatan orang Mandailing ialah partuturon yang tidak kurang dari 50 tutur kekerabatan. Semua tutur itu bermuatan etika hubungan antar pribadi dan antar kelompok kerabat. Jalur kekerabatan inilah yang memegang peranan penting dalam memelihara holong, kasih sayang, di kalangan masyarakat Mandailing.

    Orang Mandailing sangat gemar memberi nasihat, marsipaingot, kepada kaum kerabat apalagi kepada generasi muda. Nasihat itu dapat berupa paparan pengetahuan, pengalaman, penataan hidup, upaya meraih cita-cita, kerja keras, rukun, dan segala aspek kehidupan. Orang Mandailing sangat paham tentang makna kata-kata yang semuanya diyakini memiliki muatan holong. Sehingga, jika seorang tua memberikan nasihat dengan nada yang keras atau dengan pilihan kata-kata yang tajam, orang yang diberi nasihat, paham benar bahwa semua yang disampaikan itu walaupun pahit sangat sarat bermuatan rasa kasih sayang, demi kebaikannya.

    Kita dapat merasakan betapa para cerdik cendekia, guru, ulama, sangat dihormati oleh orang Mandailing. Orang Mandailing lebih menghargai orang yang arif bijaksana (halak na bisuk) daripada orang yang kaya baik orang kaya karena mendapat warisan dari orang tua, apalagi orang kaya yang konon kekayaannya diperoleh dengan cara-cara yang tidak halal, termasuk orang kaya yang bakhil. Yang disebut terakhir ini dijuluki orang sebagai Bani Uzur. Mereka kurang tertarik menyisihkan sebagian kekayaannya untuk kemakmuran masyarakat dan kampung halamannya (Harahap, 2004:231-232).

    Konflik adalah sesuatu yang sangat dihindari oleh orang Mandailing. Kalaupun ada konflik, para yang terlibat konflik berusaha menjaga dan memelihara konflik itu sebagai rahasia pribadi dan rahasia keluarga, yang kelak akan berakhir juga. Oleh karena itu, konflik adalah aib bagi orang Mandailing. Walaupun ada orang yang berusaha mengorek informasi tentang keberadaan konflik itu, orang yang berkonflik tetap berusaha tidak mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan dugaan konflik tersebut.

    Begitulah, dakwah Islamiyah berlangsung di kalangan kaum kerabat. Orang Mandailing sangat menghargai orang-orang yang arif dan berilmu. Mereka selalu menambahi istilah sapaan di depan nama orang-orang seperti itu, misalnya kata Guru, Tuan Syekh, bahkan para Tuan Syekh tidak lagi disebut namanya, melainkan kampung di mana beliau berdiam, seperti Tuan Syekh Purba, Tuan Syekh Aek Libung, Tuan Syekh Muaramais, dll. Jika ada dua Tuan Syekh di kampung atau daerah itu, maka orang pun memberi nama berdasarkan usia, misalnya Tuan Na Tobang, Tuan Na Poso. Jika, para orang panutan itu berjalan di depan suatu lepau, maka orang-orang yang sedang berbual-bual di lepau itu pastilah diam semua, atau memelankan suara mereka sampai Tuan itu berlalu.

    Para haji pun sangat dihormati, bukan karena penampilannya yang khas dengan sorban yang dipakai apik, tetapi karena ia adalah orang yang dipandang sukses, memiliki pengalaman yang mengesankan, sudah pergi ke Tanah Suci, suatu pengalaman yang menjadi idaman semua orang. Tak ada iri orang kepada para haji. Sebaliknya yang timbul adalah kesantunan terhadap para haji yang menjadi panutan masyarakatnya.
    Sebagai masyarakat yang egaliter, orang Mandailing sangat terbuka pada kehadiran para guru yang berasal dari luar desanya. Masyarakat memberikan berbagai fasilitas kepadanya, sehingga guru itu hidup nyaman, damai, dengan masyarakat setempat. Orang-orang cerdik cendekia seperti ini segera mendapat tempat terhormat di dalam masyarakat. Para guru pendatang itu pun segera menjadi anggota yang diikat sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu yang berawal dari manopot kahanggi. Sehingga para guru itu pun menjadi anggota keluarga besar Dalihan Na Tolu. Ia tampil sebagai seorang yang dibanggakan oleh kerabat barunya di kampung itu. Guru yang berasal dari luar kampung itu, tidak mesti orang Mandailing. Apa pun sukunya, tak ada halangan sedikit pun untuk segera menjadi anggota keluarga besar Dalihan Na Tolu.
    Jika ia bukan orang Mandailing, ia akan berusaha keras untuk menguasai bahasa Mandailing dengan cengkoknya yang terkenal itu, termasuk segala hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup di kampung itu. Bahkan ia diberikan marga, agar tidak ada kecanggungan dalam pergaulan dalam kehidupan masyarakat setempat. Biasanya, orang baru itu memiliki sesuatu keterampilan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan penduduk setempat. Maka, ia pun tampil sebagai pembawa pembaharuan. Keterampilan itu boleh jadi dalam bertani, bertukang, atau kemampuan untuk mengobati orang yang sakit dengan memakai air tujuh sungai (aek pitu sunge) dan ramuan herbal yang hidup di sekitar kampung itu.

    SUMBER : http://www.basyral-hamidy-harahap.com

      Similar topics

      -

      Waktu sekarang Wed Dec 13, 2017 9:43 pm